Filsafat didalam kehidupanku
Pertamakali aku mendengar kata filsafat yang
muncul dalam benakku yaitu apa itu filsafat? Mengapa kita harus mempelajari
filsafat? Dan kenapa filsafat itu ada. Pertanyaan-Pertanyaan itu belum sempat aku tanyakan kepada siapapun
karena baru semester ini aku mendapat mata kuliah filsafat. Dan kelihatannnya
filsafat itu pelajaran yang cukup sulit untuk dipelajari, karena mendengar kata
filsafat saja sudah terasa aneh dan membingungkan. Bahkan ketika pertama
kali aku melihat dosen filsafat masuk
kedalam kelas timbul kecemasan dalam benakku. Ketika aku akan bertanya tentang
pertanyaan-pertanyaanku tersebut aku takut dan bimbang, namun secara bertahap
Pertanyaan-pertanyaanku tersebut telah
dijelaskan oleh dosen dan kebimbanganku mengenai filsafat telah sedikit terjawabkan
oleh penjelasan dari dosen filsafatku, beliau menjelaskan bahwa filsafat adalah
suatu cara berfikir yang kritis dan memerlukan logika sampai ke akar
masalahnya. Filsafat juga mempunyai berbagai macam cabang yang berkaitan dengan
kehidupan manusia sehari-hari. Beliau juga memberi suatu contoh satu kata yang
sering kita dengar sehari-hari. Contoh kata tersebut saya anggap hal yang biasa
bahkan tidak mempunyai arti yang begitu berarti, namun didalam ilmu filsafat
tidak demikian, Satu kata yang biasa kita ucapkan sehari-hari bisa mengandung
makna yang begitu dalam bahkan kita tidak bisa menemukan ujungnya. Itu salah
satu ciri-ciri dari ilmu filsafat. Mempelajari filsafat bisa membeningkan cara
pandang, dimulai dengan pengakuan akan kekebalan seperti dikemukakan socrates
“saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa”. Lewat kesadaran inilah kemudian kita
akan memahami kata-kata, memahami kembali peristiwa-peristiwa dan
kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap lazim. Filsafat merupakan suatu ilmu langsung berhubungan
dengan pembentukan sikap, kepribadian dan transendensi serta transformasi diri
manusia.
Setelah mendapat berbagai penjelasan
dari dosenku, aku mulai sadar bahwa
dalam kehidupanku selama ini tidak bisa lepas dari pengaruh filsafat. Siapa pun yang dengan perhatian
secara terbuka melihat segala sesuatu yang ada di sekitarnya akan mengalami
kemunculan rasa heran. Rasa heran menyebabkan orang tersentak bangun dan mulai
memeriksa kembali apa yang sebelumnya dianggap biasa-biasa saja. Rasa heran itu
kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang diikuti dengan usaha untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehingga mengetahui dan memahaminya.
Tetapi apakah setelah mengetahui dan memahami maka rasa heran akan menjadi
musnah. Dalam kegiatan bertanya-tanya rasa heran terus memuncak-muncak. Setiap
dapat satu jawaban, jawaban itu menjadi objek rasa heran yang baru. Sama halnya dengan contoh dari dosenku, hal-hal dalam hidupku yang aku anggap sepele
dan tidak bermakna pun jika di kaitkan dengan filsafat ternyata mempunyai makna
yang sangat beragam dan walaupun sudah dicoba difikirkan sampai mendalam itupun
masih menimbulkan pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab dan dijelaskan.
Jika aku bisa menilai secara total atas hidupku maka filsafat itu akan menjadi
pandangan hidup bagi diriku, mulai dari bagaimana cara pandangku menilai diriku
sendiri kehidupan di sekitarku dan bagaimana aku menata kehidupanku bersamaan
dengan lingkungan di sekitarku dan lain sebagainya. Namun ternyata aku sendiri belum
mengetahui hakikatnya hidup dan untuk apa aku hidup. Sebelum aku memikirkan
jawaban akan pertanyaanku itu, aku mulai berfikir salahkan hidupku selama ini? salahkah aku memaknai hidupku selama
ini? Aku berfikir demikian karena aku kebingungan dengan ketidaktahuanku
terhadap arti kehidupan yang sebenarnya, karena aku sendiri belum bisa melihat
potensi yang ada pada diriku. Mengapa aku diciptakan didunia ini? Harus
bagaimana aku melalui lika-liku kehidupan ini? maka aku mulai berpetualang
dengan pikiranku mencoba menggali semua yang ada dalam kehidupan yang aku lalui
selama ini.
Aku adalah seseorang yang hidup
dalam dunia yang apa adanya, aku tidak menjadi orang lain dan aku tidak
berusaha menjadi orang lain. Aku adalah diriku sendiri dengan segala sesuatu
yang aku fikirkan dan yang aku jalani. Akupun ingin orang disekitarku memahami
bahwa inilah aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. namun ternyata
aku tidak hidup sendirian dalam dunia ini. Aku hidup dalam suatu lingkup lingkungan
dan aku membutuhkan orang lain, semua itu menunjukkan hakikat dari manusia,
yaitu sebagai makhluk sosial. Dan aku membutuhkan orang lain untuk dapat
membentuk dan mengembangkan diriku sehingga aku dapat hidup secara lebih baik,
lebih bijaksana dan lebih kritis. Dengan demikian manusia pada hakikatnya hidup
bersama dengan orang lain atau hidup dalam suatu komunitas tertentu. Jadi,
kebersamaannya dengan orang lain dalam suatu komunitas inilah yang turut
menentukan pembentukan yang memperkenankan manusia itu hidup atas cara yang
lebih baik dan lebih sempurna dalam dunianya.
Aku hidup dalam kesederhanaan, dalam salah satu
sudut desa di kota Trenggalek, suatu desa yang masih alami dan begitu indah
ciptaan Allah SWT dengan penduduk yang begitu ramah. Tak henti-hentinya kuucap
syukur aku telah dilahirkan diantara orang-orang yang begitu tulus
menyayangiku, mereka adalah orang tua dan saudara-saudaraku yang telah
mendidik, merawat, serta menjagaku. Banyak harapan yang mereka bebankan di atas
pundakku. Aku hidup dalam lingkungan keluarga yang beragama islam. Jadi secara
otomatis sejak kecil aku menganut agama tersebut. Dan sejak kecil pula orang
tuaku selalu menjelaskan bahwa Allah adalah tuhan kita yang menjadikan alam
semesta ini beserta isinya, Allah itu ada dan selalu mengawasi setiap gerak
langkah kita kapanpun dan dimanapun. Kita juga tidak boleh melanggar semua
larangannya dan harus mematuhi segala perintahnya dan masih banyak lagi hal-hal
yang di ajarkan kepadaku tentang ketuhanan. Dahulu aku percaya begitu saja, dan
tanpa alasan yang jelas aku hanya mengikuti segala yang diucapkan oleh orang
tuaku tanpa menanyakan kenapa aku harus mematuhinya. Namun semakin bertambah
usia, aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri, dimana Allah itu berada?
Kenapa aku harus mempercayainya? Aku mulai berfikir keras untuk menjawab
pertanyaan tersebut. Karena, jika aku tidak yakin dan mempercayai serta mengamalkan
adanya Allah dari hatiku maka sia-sia
semua hal yang aku lakukan selama ini.
Namun karena sesungguhnya allah itu sesuatu yang lebih besar dari padanya dan
tidak dapat dipikirkan manusia, yang maha besar, yang maha kuasa, dan lain
sebagainya. Dan untuk mencapai pemikiran yang seperti itu maka diperlukaan
adanya keimanan dalam diri manusia karena tanpa keimanan kita cenderung akan
menolak adanya Allah dan manusia itu hanya mampu berspekulasi sesuai dengan
angannya yang ingin hidup bebas. Allah adalah suara hati kita dan Allah adalah
tujuan dari hidup kita karena kita akan kembali pada-Nya. Saat inipun aku masih
memupuk wawasan agamaku, aku selalu berusaha mencari kebenaran yang hakiki
supaya bertambah keyakinanku terhadap allah SWT. Agar supaya aku tidak menyesal
di kemudian hari. Dan ternyata yang ada didalam agama islam itu tidak hanya apa
yang telah di ajarkan orang tuaku semasa aku masih kecil dulu. Agama islam itu
luas dan bersifat universal, agama islam mengajarkan apa yang ada dalam dunia
ini dan bagaimana cara kita untuk hidup didunia. Karena sesungguhnya Manusia tidak
dapat dilepaskan dari agama dalam kehidupannya. Maksudnya adalah bahwa agama
menjadi sarana di mana manusia dapat memenuhi keinginannya untuk dapat hidup
dengan lebih bijaksana. Dengan kata lain agama membantu manusia untuk dapat
hidup lebih baik. Melalui agama manusia dapat menjadi bijaksana untuk mencapai
realisasi dirinya yang lengkap baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Aku adalah seseorang yang hidup dengan memanfaatkan segala kesempatan
yang ada dan aku selalu berusaha untuk tidak menyia-nyiakan semua kesempatan
yang datang kepadaku bahkan akupun harus berusaha mencari kesempatan itu.
Karena dengan kesempatan itu maka akan membawa perubahan terhadap masa depanku
kelak. Masa depanku sendiri masih dalam misteri dan aku berjalan diatas suatu
keyakinan yang kadang membuatku dalam keadaan
yang cukup sulit untuk
dimengerti. Musuh terbesar dalam diriku yaitu diriku sendiri. Misalnya
saja dalam hal beribadah, rasa malas
sering muncul dan menjadi penghalang
bagiku. Ketika aku takut kepada seseorang, padahal aku telah melakukan sesuatu
hal yang benar ( setidaknya itu menurut pikiranku sendiri), aku takut hanya
karena orang tersebut derajat duniawinya berada diatasku. Padahal, aku memiliki
potensi yang berbeda dengan orang lain. Rasa takut dalam diriku tersebut
menjadi musuhku sendiri, karena pada kenyataannya sering kali aku menjadi
sumber kegagalan atas diriku sendiri, itu semua terjadi karena aku sering
mencampakkan diriku. Namun aku tidak akan menyerah untuk melawan hal-hal
negatif yang ada dalam fikiranku. Dan aku tidak akan memaknai hidup ini
mengikuti kemana arah angin berhembus, angin berhembus ketimur, ikut ke timur,
angin berhembus kebarat, ikut kebarat. Seiring berjalannya waktu aku ingin
mempunyai tujuan pasti dalam perjalanan hidupku. Aku tidak ingin menyiayiakan
kesempatan yang telah Allah berikan untukku dan aku ingin menjadi seseorang
yang bermanfaat untuk orang lain, dengan diniatkan untuk beribadah kepada Allah
swt.
Pada
dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan bersih. Pada saat
seseorag dalam keadaan tenang, ia membuat berbagai tujuan dan prinsip dalam
hidupnya seperti yang telah aku nyatakan, namun ketika diterapkan timbul
beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari lingkungan
eksternalnya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk
dibentuk atau diarahkan. Pembentukan manusia itu dapat melalui pendidikan atau
ilmu yang mempengaruhi pengetahuan tentang diri dan dunia, melalui kehidupan
sosial dan melalui agama. Berfilsafat berarti mengatur hidup kita untuk menjadikan kita sebagai
manusia yang bertanggung jawab, yakni tanggung jawab yang terhadap dasar hidup
baik itu terhadap diri sendiri, tuhan,
alam dan juga orang lain. Kita sebagai manusia haruslah mengetahui diri kita sendiri dan
mengenal dengan baik kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Karena,
manusia yang mengetahui dunianya berarti menusia mengenal secara baik apa yang
ada atau terkandung dalam dunianya itu, baik potensi yang dapat memudahkan
manusia itu sendiri maupun tantangan yang diperhadapkan kepadanya. Seorang yang
bijaksana akan memiliki kemugkinan yang paling tepat dalam usahanya mencapai
“Kesejahteraan hidup” karena ia mempunyai wawasan yang tepat dan mendalam. Dia
berusaha mengerti apa artinya hidup dan dirinya dengan segala masalah yang
muncul dan yang ia hadapi. Disamping itu filsafat memberikan petunjuk dengan
metode pemikiran reflektif dan penelitian penalaran supaya kita dapat
menyerasikan antara logika, Rasa, Rasio, pengalaman dan agama didalam usaha
manusia mencapai pemenuhan kebutuhannya dalam usaha yang lebih lanjut yaitu
“mencapai hidup yang sejahtera”. Dalam hal ini manusia tidak dengan begitu saja
menceburkan diri kedalam salah satu perbuatan atau situasi, karena ia selalu
sadar, bahwa ia berbuat tentang suatu atau tidak berbuat tentang suatu itu.
Disini peranan filsafat ialah secara kritis menyerasikan kehidupan manusia, sehingga
tampak hidup manusia serta arah yang mendasarinya didalam usaha mereka mencapai
kesejahteraan hidup tadi. Kekurangan manusia dapat diatasi dengan apa yang ada
dalam dunianya. Tentu saja melalui suatu relasi, baik relasi dengan orang lain
maupun relasi dengan alam. Pengetahuan dan pengenalan atas diri dan dunianya
membantu manusia untuk mengarahkan dirinya kepada hidup yang lebih baik. Dengan adanya ilmu filsafat kita
akan lebih bisa mendidik dan membangun diri kita sendiri. Dan dalam kehidupan filsafat sangat
dibutuhkan dalam pengembangan cara berfikir . Dengan cara berfikir tersebut
kehidupan kita sehari-hari akan mengalami perubahan. Semakin tinggi kita
berfikir maka secara otomatis pengembangan yang ada
pada diri kita semakin tinggi pula.
Karena berfilsafat bukan hanya mencerminkan kehidupan kita saat ini, namun
berfilsafat itu membimbing kita untuk lebih maju dan memikirkan masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar