POPULASI
DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN KUALITATIF
B.
Definisi Populasi
Menurut kamus riset karangan Drs. Komaruddin, yang
dimaksud dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan
sampel. Pada kenyataannya populasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu
memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian.[1]
Sedangkan menurut Sugiyono pengertian populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.[2] Dapat diambil kesimpulan bahwa populasi adalah segala sesuatu yang
meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh obyek/subyek yang
diterapkan untuk dipelajari dan
populasi juga menjadi sumber dari pengambilan sampel.
Ada perbedaan yang fundamental berkaitan dengan definisi
populasi dan sampel baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif.
Definisi populasi pada penelitian kuantitatif adalah wilayah generalisasi yang
diliputi obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan ciri khas yang ditarik
menjadi sebuah kesimpulan.[3]
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh
spradley dinamakan “sosial situation” atau
situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku
(actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.[4]
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi,
karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada
situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke
populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki
kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari.[5]
Situasi sosial dalam penelitian kualitatif dapat terjadi
di lingkungan keluarga, di tempat kerja, dan wilayah suatu negara. Namun obyek
dalam penelitian kualitatif tidak hanya terdiri dari elemen-elemen tersebut,
peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan dan juga binatang termasuk dalam proses penelitian
kualitatif. Dalam penelitian kualitatif
peneliti memasuki situasi sosial tertentu, yaitu melakukan observasi dan
wawancara terhadap orang-orang yang dianggap tahu tentang situasi sosial yang
sedang dicari. Hasil penelitian ini tidak digeneralisasikan ke populasi, karena
pengambilan sampel tidak diambil secara random.
C.
Definisi Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Karena ia merupakan
bagian dari populasi, tentulah ia harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh
populasinya.[6] Sampling
atau sampel berarti contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi
objek penelitian. Tujuan penentuan sampel ialah untuk memperoleh keterangan
mengenai objek penelitian dengan penyimpangan sampel dari populasi dan
sekaligus dapat memberi kepastian mengenai tingkat kepercayaan yang selanjutnya
dipergunakan untuk menilai data yang diperdapat dari sampel.[7]
Penelitian kualitatif jarang menggunakan sampel besar,
apalagi untuk pendekatan studi kasus, sehingga jarang pula menggunakan
penarikan sampel. Walaupun melakukan penarikan sampel, biasanya jarang atau
tidak lazim menggunakan penarikan sampel secara acak (random). Penarikan secara
acak cenderung digunakan dalam penelitian kuantitatif dan digunakan untuk
populasi yang banyak serta cenderung homogen. Penelitian kualitatif khususnya
studi kasus, cenderung menggunakan penarikan sampel secara purposif, yaitu
penarikan sampel bertujuan. Ciri-ciri sampel purposif adalah:[8]
1.
Sampel tidak dapat ditentukan atau
ditarik terebih dahulu.
2.
Pemilihan sampel secara berurutan.
3.
Penyesuaian berkelanjutan dari sampel.
4.
Pemilihan terakhir jika sudah menjadi
pengulangan.
D.
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel atau sampling technique secara umum dibagi dua (2) yaitu probability sampling dan non probability sampling. Probability sampling meliputi simple random, stratified random, cluster
sampling. Non probability sampling
meliputi, purposive sampling dan snowball
sampling.[9] dengan kata lain probability sampling adalah suatu proses pengambilan sampel dimana unit-unit
dipilih dengan suatu prosedur “chance” sehingga probabilita atau peluang setiap
unit untuk termasuk sebagai sampel dapat diketahui, sedangkan non probability
sampling mencakup semua metode pemilihan sampel tidak dengan prosedur “chance”
atau tidak dengan probabilita terpilih yang diketahui untuk setiap unit.[10]
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang
sering digunakan adalah purposive
sampling, dan snowball sampling. Seperti
telah dikemukakan bahwa purposive
sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan
tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap
paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa
sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang
diteliti.[11] Dalam
teknik ini pengambilan sampel disesuaikan dengan tujuan penelitian. Ukuran
sampel tidak dipersoalkan sebagaimana didalam accidental sampling. Perbedaannya
terletak pada pembatasan sampel dengan hanya mengambil unit sampling yang
sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi
disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan
tujuan penelitian.[12]
Menurut Alan Bryman dan Emma Bell dalam bukunya
“...discussion of sampling in qualitative research tend to revolve around the
nation of purposive sampling. This type of sampling is essentially to do with
the selection of units (which may be people, organizations, documents,
departemens, and so on), whih direct reference to the research questions should
asked.”[13]
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Pembahasan
sampling dalam penelitian kualitatif cenderung berkisar pada purposive
sampling. Dan jenis pengambilan sampel ini pada dasarnya berkaitan dengan
pemilihan unit (yang mungkin orang, organisasi, dokumen, departemens, dan
sebagainya), yang mengacu langsung pada pertanyaan penelitian yang harus
diajukan.
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, yang lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.[14]
Dikutip dari bukunya Allen Rubin dan Earl Babbie bahwa, “another non probability sampling technique, one that some researchers consider a form of accidental sampling, is called snowball sampling. snowball sampling is appropiate when the members of a special population are difficult to locate. a might be appropriate, for example, to find a sample of homeless individuals, migrant workers, undocomented immigrants, and so on.”[15] Maksud dari pernyataan diatas yaitu teknik pengambilan sampel non probability sampling selain purposive sampling, yang oleh beberapa peneliti dianggap sebagai bentuk accidental sampling, disebut snowball sampling. sampling ini tepat bila anggota populasi khusus sulit ditemukan. mungkin tepat, untuk contoh, untuk menemukan sampel individu tunawisma, pekerja migran, imigran yang tidak dapat didokumentasikan, dan sebagainya.
E.
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Asra,
Abuzar dan Presetyo, Achmad. Pengambilan
Sampel Dalam Penelitian Survei. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2015.
Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset. 2013.
Briman, Alan and Bell,
Emma. BusinessResearch Method. New
York. Oxford University Press. 2011.
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal.
Jakarta. PT Bumi Aksara. 2010.
Nawawi, Hadari. Metode Penelitian bidang sosial. Yogyakarta.
Gadjah Mada University PRESS. 2012.
Rubin, Allen and
Babbie, Essential Research Methods For
Sosial Work. Belmont. Nelson Education Ltd. 2010
Subagiyo, Rokhmat. Metode Penelitian Ekonomi
Islam Konsep dan Penerapan. Jakarta
Timur. Alim’s Publishing Jakarta. 2017.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan R&D. Bandung. Alfabeta. 2016.
Tohirin, metode penelitian kualitatif dalam pendidikan
dan bimbingan konseling. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2012.
[2] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan R&D, (Bandung, Alfabeta: 2016), hal. 215
[3] Rokhmat Subagiyo, Metode Penelitian Ekonomi
Islam Konsep dan Penerapan, (Jakarta
Timur, Alim’s Publishing Jakarta: 2017), hal. 182
[8] Tohirin, metode penelitian kualitatif dalam pendidikan
dan bimbingan konseling, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada: 2012), hal. 68
[10] Abuzar Asra dan Achmad Prasetyo, Pengambilan
Sampel Dalam Penelitian Survei, (Jakarta,
PT RajagrafindoPersada: 2015), hal. 35
[12] Hadari Nawawi, Metode Penelitian bidang sosial, (Yogyakarta,
GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS: 2012), hal. 167
[13] Alan Briman and Emma
Bell, BusinessResearch Method, (New
York, Oxford University Press: 2011), hal. 428
[15] Allen Rubin and Earl
Babbie, Essential Research Methods For Sosial
Work,(Belmont, Nelson Education Ltd:2010), hal 148-149