Rabu, 06 Desember 2017

POPULASI DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN KUALITATIF

B.     Definisi Populasi
Menurut kamus riset karangan Drs. Komaruddin, yang dimaksud dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Pada kenyataannya populasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian.[1] Sedangkan menurut Sugiyono pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[2] Dapat diambil kesimpulan bahwa populasi adalah segala sesuatu yang meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh obyek/subyek yang diterapkan untuk dipelajari dan populasi juga menjadi sumber dari pengambilan sampel.
Ada perbedaan yang fundamental berkaitan dengan definisi populasi dan sampel baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Definisi populasi pada penelitian kuantitatif adalah wilayah generalisasi yang diliputi obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan ciri khas yang ditarik menjadi sebuah kesimpulan.[3] Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh spradley dinamakan “sosial situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.[4]


Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari.[5]
Situasi sosial dalam penelitian kualitatif dapat terjadi di lingkungan keluarga, di tempat kerja, dan wilayah suatu negara. Namun obyek dalam penelitian kualitatif tidak hanya terdiri dari elemen-elemen tersebut, peristiwa alam, tumbuh-tumbuhan dan juga binatang termasuk dalam proses penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif  peneliti memasuki situasi sosial tertentu, yaitu melakukan observasi dan wawancara terhadap orang-orang yang dianggap tahu tentang situasi sosial yang sedang dicari. Hasil penelitian ini tidak digeneralisasikan ke populasi, karena pengambilan sampel tidak diambil secara random.

C.     Definisi Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Karena ia merupakan bagian dari populasi, tentulah ia harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh populasinya.[6] Sampling atau sampel berarti contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian. Tujuan penentuan sampel ialah untuk memperoleh keterangan mengenai objek penelitian dengan penyimpangan sampel dari populasi dan sekaligus dapat memberi kepastian mengenai tingkat kepercayaan yang selanjutnya dipergunakan untuk menilai data yang diperdapat dari sampel.[7]
Penelitian kualitatif jarang menggunakan sampel besar, apalagi untuk pendekatan studi kasus, sehingga jarang pula menggunakan penarikan sampel. Walaupun melakukan penarikan sampel, biasanya jarang atau tidak lazim menggunakan penarikan sampel secara acak (random). Penarikan secara acak cenderung digunakan dalam penelitian kuantitatif dan digunakan untuk populasi yang banyak serta cenderung homogen. Penelitian kualitatif khususnya studi kasus, cenderung menggunakan penarikan sampel secara purposif, yaitu penarikan sampel bertujuan. Ciri-ciri sampel purposif adalah:[8]
1.      Sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terebih dahulu.
2.      Pemilihan sampel secara berurutan.
3.      Penyesuaian berkelanjutan dari sampel.
4.      Pemilihan terakhir jika sudah menjadi pengulangan.

D.    Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel atau sampling technique secara umum dibagi dua (2) yaitu probability sampling dan non probability sampling. Probability sampling meliputi simple random, stratified random, cluster sampling. Non probability sampling meliputi, purposive sampling dan snowball sampling.[9] dengan kata lain probability sampling adalah suatu proses pengambilan sampel dimana unit-unit dipilih dengan suatu prosedur “chance” sehingga probabilita atau peluang setiap unit untuk termasuk sebagai sampel dapat diketahui, sedangkan non probability sampling mencakup semua metode pemilihan sampel tidak dengan prosedur “chance” atau tidak dengan probabilita terpilih yang diketahui untuk setiap unit.[10]  
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, dan snowball sampling. Seperti telah dikemukakan bahwa purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.[11] Dalam teknik ini pengambilan sampel disesuaikan dengan tujuan penelitian. Ukuran sampel tidak dipersoalkan sebagaimana didalam accidental sampling. Perbedaannya terletak pada pembatasan sampel dengan hanya mengambil unit sampling yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.[12]
Menurut Alan Bryman dan Emma Bell dalam bukunya “...discussion of sampling in qualitative research tend to revolve around the nation of purposive sampling. This type of sampling is essentially to do with the selection of units (which may be people, organizations, documents, departemens, and so on), whih direct reference to the research questions should asked.”[13] Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Pembahasan sampling dalam penelitian kualitatif cenderung berkisar pada purposive sampling. Dan jenis pengambilan sampel ini pada dasarnya berkaitan dengan pemilihan unit (yang mungkin orang, organisasi, dokumen, departemens, dan sebagainya), yang mengacu langsung pada pertanyaan penelitian yang harus diajukan.
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, yang lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.[14] 
Dikutip dari bukunya Allen Rubin dan Earl Babbie bahwa,  “another non probability sampling technique, one that some researchers consider a form of accidental sampling, is called snowball sampling. snowball sampling is appropiate when the members of a special population are difficult to locate. a might be appropriate, for example, to find a sample of homeless individuals, migrant workers, undocomented immigrants, and so on.”[15]  Maksud dari pernyataan diatas yaitu teknik pengambilan sampel non probability sampling selain purposive sampling, yang oleh beberapa peneliti dianggap sebagai bentuk accidental sampling, disebut snowball sampling. sampling ini tepat bila anggota populasi khusus sulit ditemukan. mungkin tepat, untuk contoh, untuk menemukan sampel individu tunawisma, pekerja migran, imigran yang tidak dapat didokumentasikan, dan sebagainya. 


E.     Kesimpulan













DAFTAR PUSTAKA
Asra, Abuzar dan Presetyo, Achmad. Pengambilan Sampel Dalam Penelitian Survei. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2015.
Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Offset. 2013.
Briman, Alan and Bell, Emma. BusinessResearch Method. New York. Oxford University Press. 2011.
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta. PT Bumi Aksara. 2010.
Nawawi, Hadari. Metode Penelitian bidang sosial. Yogyakarta. Gadjah Mada University PRESS. 2012.

Rubin, Allen and Babbie, Essential Research Methods For Sosial Work. Belmont. Nelson Education Ltd. 2010

Subagiyo, Rokhmat. Metode Penelitian Ekonomi Islam Konsep dan Penerapan.  Jakarta Timur. Alim’s Publishing Jakarta. 2017.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung. Alfabeta. 2016.

Tohirin,  metode penelitian kualitatif dalam pendidikan dan bimbingan konseling. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2012.






[1] Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta, PT Bumi Aksara: 2010), hal 53
[2] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, (Bandung, Alfabeta: 2016), hal. 215
[3] Rokhmat Subagiyo, Metode Penelitian Ekonomi Islam Konsep dan Penerapan,  (Jakarta Timur, Alim’s Publishing Jakarta: 2017), hal. 182
[4] Sugiyono, Metode Penelitian.........., hal. 215
[5] Sugiyono, Metode Penelitian.........., hal. 216
[6] Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset: 2013), hal.79
[7] Mardalis, Metode Penelitian.........., hal.55-56
[8] Tohirin,  metode penelitian kualitatif dalam pendidikan dan bimbingan konseling, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada: 2012), hal. 68
[9] Rokhmat Subagiyo, Metode Penelitian............,  hal. 182
[10]  Abuzar Asra dan Achmad  Prasetyo, Pengambilan Sampel Dalam Penelitian  Survei, (Jakarta, PT RajagrafindoPersada: 2015), hal. 35
[11] Sugiyono, Metode Penelitian..........,.hal. 218-219
[12] Hadari Nawawi, Metode Penelitian bidang sosial, (Yogyakarta, GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS: 2012), hal. 167
[13] Alan Briman and Emma Bell, BusinessResearch Method, (New York, Oxford University Press: 2011), hal. 428
[14] Sugiyono, Metode Penelitian..........,.hal. 219
[15] Allen Rubin and Earl Babbie, Essential Research Methods For Sosial Work,(Belmont, Nelson Education Ltd:2010), hal 148-149

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN UJI COBA PRODUK JAMUR CRISPY

A.     Latar Belakang             Jamur merupakan jenis tumbuhan yang mudah di jumpai disekeliling kita, cara membudidayakannya juga t...